Tuesday, November 19, 2013

Lejitkan Potensi, Bangun Karakter Indonesia Mandiri : Eksplorasi Biodiversitas Cermin Indonesia Unggul

Winda Nurafiani
Fakultas Biologi 13/349093/BI/9143

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan biodiversitas. Kekayaan alam yang melimpah baik flora maupun fauna. Biodiversitas ini merupakan suatu berkah dari Tuhan YME yang berpotensi untuk dikembangkan, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun bidang ekonomi. Negara kita kaya akan sumber daya, banyak diantaranya yang belum tereksplorasi dan belum dirasakan kebermanfaatannya secara maksimal untuk rakyat Indonesia. Sebagai seorang pemuda, mahasiswa, seorang insan intelektual, hal ini merupakan sebuah tanggung jawab besar, tanggung jawab untuk melejitkan potensi Indonesia dengan jalan eksplorasi biodiversitas untuk mewujudkan Indonesia yang unggul. Sangat disayangkan apabila kekayaan alam di Indonesia tak digali secara maksimal, ditambah lagi apabila kekayaan alam itu justru lebih digali dan dimanfaatkan oleh pihak – pihak asing. Banyak kasus yang terjadi di Indonesia, dimana banyak investor asing yang menanamkan modal dalam sumber daya dan mengambil untung yang terbilang sangat besar, sementara negara kita hanya mendapatkan untung beberapa persen saja. Apabila negara Indonesia berani untuk mengambil langkah kedepan, dalam pengelolaan dan pengembangan sumber daya alam Indonesia, tentu saja negara kita bisa mendapatkan pemasukan negara yang besar, implikasinya adalah kesejahteraan masyarakat Indonesia meningkat serta mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia.  Selain dalam bidang ekonomi, eksplorasi biodiversitas Indonesia sangatlah fundamental dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Indonesia memiliki 515 spesies mamalia (urutan kedua dalam daftar mamalia dunia setelah Brazil), 3% di antaranya endemik, 511 spesies reptil (keempat dalam keragaman), 150 dari mereka endemik, 1.531 spesies burung (kelima), 397 dari mereka endemik, dan 270 spesies amfibi (keenam), 100 dari mereka endemik, 75 spesies burung psittacine (pertama), dengan 38 di antaranya endemik, dan 35 spesies primata (keempat). Negara ini juga berada di posisi lima besar pada keanekaragaman tumbuhan dengan perkirakan 38.000 spesies tanaman, dan memimpin dunia dalam keanekaragaman palem dengan 477 spesies, 225 dari mereka endemik, dan memiliki lebih dari setengah dari 350 jenis pohon dipterocarpaceae, dengan 155 menjadi endemik di Kalimantan. Indonesia juga menempati urutan belakang dari Brazil dan Columbia dalam keragaman ikan air tawar, sekitar 1.400 spesies. Beberapa spesies ditemukan hanya di abad ke-20. Tetapi sebagian besar spesies yang ada di Indonesia justru ditemukan dan diteliti oleh pihak – pihak asing. padahal Indonesia sebagai negara yang mempunyai biodiversitas itu seharusnya lebih ’concern’ terhadap sumber daya.
Yang lebih menyedihkan lagi, banyak biodiversitas Indonesia yang belum tereksplor dengan baik, pada akhirnya diteliti dan dipatenkan oleh pihak asing. Indonesia hanya bisa merespon setelah hal tersebut terjadi, seakan acuh tak acuh terhadap biodiversitas itu sebelum dicuri oleh pihak asing. Pencurian biodiversitas ini bisa disebut sebagai biopiracy. Istilah ini memang masih asing bagi kebanyakan orang awam, istilah biopiracy ini digunakan untuk menjelaskan pencurian materi genetik atau bahkan pengetahuan tradisional dari suatu negara untuk dimanfaatkan oleh negara lain tanpa mekanisme  benefit yang jelas. Tidak ada MoU (Momerandum of Understanding) dan kesepakatan yang jelas antar kedua negara. Hal ini menjadi masalah yang cukup serius manakala menyangkut martabat dan kedaulatan bangsa Indonesia.
Biopiracy dilakukan oleh pihak asing dengan berbagai macam cara, mulai dari berpura – pura sebagai turis asing yang berlibur ke Indonesia, kerjasama penelitian, dan bahkan pertukaran pelajar ke luar negeri. Sebagai contoh, pada saat terjadi wabah flu burung, pihak asing mengambil materi genetik virus flu burung dari Indonesia untuk kemudian diteliti untuk pengembangan vaksin. Setelah itu, mereka memperbanyak vaksin dan menjual vaksin kembali ke Indonesia. Ini berarti Indonesia harus membayar  atas produk yang sebenarnya bersumber pada apa yang dimilikinya. Bahkan dalam kasus vaksin virus flu burung kita harus membayar mahal  untuk memperoleh vaksin tersebut, padahal bahan genetik yang digunakan dalam pembuatan vaksin tersebut berasal dari Indonesia. Bisa dibayangkan berapa kerugian yang diderita negara kita? Sampel virus flu burung diambil secara percuma, kemudian dijual kembali dan Indonesia harus menggelontorkan dana miliyaran rupiah untuk vaksin ini.
Pemerintah sudah sepantasnya memberi kesempatan lebih kepada peneliti Indonesia untuk berkembang dengan cara mempermudah akses dan memberi sokongan dana untuk melakukan penelitian khususnya penelitian biodiversitas. Agar kejadian semacam ini tidak akan terjadi lagi di Indonesia.
Apakah implementasi peran mahasiswa dalam kasus biopiracy ini?
Sebagai mahasiswa seharusnya terpanggil untuk  mendidik lingkungan sekitar, menumbuhkan kecintaan dan rasa kepemilikan terhadap Indonesia, termasuk pada kekayaan alamnya. Karena tanpa disadari, banyak kasus biopiracy dimana peran orang pribumi yang justru membantu pihak asing dalam pengambilan sampel tersebut.  Faktor ketidaktahuan bisa disebut sebagai faktor utama terjadinya biopiracy. Maka dari itu, komunikasi secara intensif berupa diskusi harus dibangun baik di kalangan akademisi maupun di kalangan masyarakat umum. Kajian dari berbagai disiplin ilmu harus terus digalakkan, karena dengan rasa kepemilikan yang dipadukan dengan pengetahuan akan membuahkan solusi – solusi yang aplikatif terhadap penanganan dan mitigasi dari biopiracy.
Lalu apa yang kontribusi nyata yang dapat dilakukan oleh mahasiswa?
Kontribusi nyata yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa adalah kenali kekayaan kita, bagaimana caranya? Salah satu langkah perwujudannya adalah terdapatnya kelompok studi yang bergerak dalam berbagai bidang, seperti Kelompok Studi Herpetologi, Kelompok Studi Kelautan, Kelompok Studi Entomologi, BiOSC, dan sebagainya yang terdapat di Fakultas Biologi. Melalui KS ini, mahasiswa dapat melakukan inventarisasi terhadap kekayaan alam Indonesia, baik flora maupun fauna. Selain inventarisasi, penelitian pun dilakukan, untuk kemudian dipublikasikan agar biodiversitas ini terjaga kelestarian dan orisinalitasnya di Indonesia. Publikasi merupakan hal yang sangat penting dilakukan dalam melakukan penelitian, hal ini bisa menjadi pembuktian juga bahwasanya Indonesia dapat meneliti dan mengelola biodiversitasnya secara mandiri dalam rangka mewujudkan Indonesia yang unggul.

***
Daftar Pustaka



Saturday, November 16, 2013

Penulisan Karya Ilmiah: Goresan Tinta Abadi Untuk Generasi Masa Depan

Winda Nurafiani
Fakultas Biologi 13/349093/BI/9143

Peran mahasiswa yang fundamental dalam masyarakat secara garis besar dapat digolongkan sebagai motor perubahan, sebagai agen pembaharu yang diharapkan mampu berkontribusi dalam kemajuan bangsa, melakukan pembaharuan dalam sistem yang ada. Salah satu bentuk nyata peran mahasiswa adalah gerakan mahasiswa secara masif di Indonesia yang berujung pada bergulirnya pemerintahan orde baru yang kala itu dipimpin oleh Presiden Soeharto. Namun, pada era sekarang ini, rasanya sudah tidak relevan lagi apabila implementasi peran mahasiswa hanya sekedar demonstrasi seperti yang dilakukan pada masa lalu. Implementasi peran mahasiswa di era modern ini, haruslah terarah dan berbasis pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Semua elemen ini tentunya harus berjalan sinergis dan harmonis dalam rangka merealisasikan tujuan, yaitu memajukan bangsa Indonesia. Selain itu, mahasiswa juga dapat melakukan strategi investigatif  dengan melakukan pendampingan dalam rangka upaya pemberdayaan masyarakat serta melakukan kontribusi nyata dengan disiplin ilmu yang sudah diperoleh di bangku kuliah agar bisa terimplementasikan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dilain sisi, mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis. Berpikir kritis itu kebutuhan, kebutuhan bagi para mahasiswa agar lebih peka dalam menghadapi dan merespons segala permasalahan dan dinamikanya pada masyarakat Indonesia. Selama ini, respons tersebut ‘terikat’ pada aksi mahasiswa, akan tetapi hal ini dapat terimplementasikan dalam bentuk lain, yang salah satunya adalah keaktifan dalam menulis. Melalui keaktifan menulis pada berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik, kesejatian mahasiswa, sebagai seorang pemikir dan calon pemimpin akan selalu terabadikan lewat tulisannya, dan bahkan tulisan tersebut dapat memberikan pengaruh besar terhadap orang lain, selain itu dapat memberikan inspirasi kepada kaum lainnya baik tua maupun muda, karena melalui tulisan segala aspirasi dapat teruraikan secara nyata. Akan tetapi perlu digaris bawahi bahwasanya untuk menulis dibutuhkan kefaktualan, tidak hanya sekedar opini – opini yang dapat membangun pola pikir baru yang mungkin menyimpang. Untuk itu, regulasi menulis ini dapat dituangkan dalam penulisan karya ilmiah, sebuah karya yang didapat dengan metode yang jelas, secara sistematis, dan tentunya karya tersebut dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan.
Terkait dengan peran mahasiswa, yang salah satunya adalah bertanggung jawab dalam melestarikan dan mengembangkan potensi – potensi yang ada di Indonesia, baik sumber daya hayati, budaya maupun ilmu pengetahuan lokal yang belum tereksplorasi selama ini. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen yang mengubah ‘oral tradition’ pada ilmu pengetahuan Indonesia. Hal tersebut dapat dituangkan dalam karya ilmiah, mahasiswa dapat melegendakan pemikiran mereka dan hasil riset baik mengenai sumber daya hayati, budaya maupun ilmu pengetahuan lokal kedalam sebuah karya ilmiah. Dengan begitu, generasi yang akan datang diharapkan dapat mewarisi ilmu berupa tulisan yang faktual dan abadi.
Dengan semangat dalam melegendakan pengetahuan dan kecerdasan intelektual dalam sebuah karya ilmiah, mahasiswa yang memiliki integritas moral, kredibilitas sosial, dan profesionalitas keilmuan menempati posisi fundamental yang siap mengawal setiap perubahan Indonesia menuju ke arah yang lebih baik, walaupun hanya dengan goresan tinta.


***
Daftar Pustaka

Al Arifa, Nur Saudah. 2010. Sejarah Perjuangan dan Peran Mahasiswa dalam Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta: Subdit PPKB Ditmawa Universitas Gadjah Mada.
Nisa, Zahrotun. 2010. Mahasiswa sebagai Agent of Change dan Social Control Pembangunan Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: Subdit PPKB Ditmawa Universitas Gadjah Mada.
Prastowo, Fuji Riang. 2010. Mengikis Eurosentrisme Melalui Sikap Kritis Mahasiswa Berbasis Indigenious Knowledge. Yogyakarta: Subdit PPKB Ditmawa Universitas Gadjah Mada.



Kerangka berpikir ilmiah:
Berpikir Ilmiah, Kreatif, Inovatif, Implementasi Peran Mahasiswa sebagai Agent of Change

Winda Nurafiani
Fakultas Biologi 13/349093/BI/9143

Sebagai insan intelektual dan calon pemimpin bangsa, mahasiswa dituntut untuk dapat berpikir ilmiah, berpikir secara kritis, dalam menghadapi segala dinamika persoalan di Indonesia. Berpikir merupakan kegiatan akal untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Berpikir ilmiah adalah kegiatan yang menggabungkan induksi dan deduksi (Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan).  Berpikir Ilmiah merupakan kegiatan yang menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, dan mengembangkan suatu hal berdasarkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Sehingga hal tersebut dapat dibuktikan kebenarannya dan diterima orang lain. Berpikir ilmiah juga harus melalui proses yang panjang dan benar karena akan menyangkut kebenaran. Dalam berpikir ilmiah seseorang harus memperhatikan dasar-dasarnya. Yang didalamnya menyangkut apa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana. Satu hal yang menjadi garis bawah adalah kebenaran ilmiah tidak mutlak, melainkan bersifat sementara, relatif, metodologis, pragmatis, dan fungsionalis, dan epistemologis.
Sebagai insan akademis, potensi mahasiswa dapat dilihat dari aspek intelektualitas, kecerdasan, dan penguasaan wawasan keilmuan. Ilmu dan wawasan selain menambah khasanah pengetahuan juga dapat memberikan bekal teoritis mapun praktis dalam merumuskan pemecahan masalah. Sehingga apabila seorang mahasiswa menghadapi suatu problematika yang belum pernah dihadapi sebelumnya, mahasiswa sudah memiliki bekal yang metodologis dan sistematis untuk merumuskan solusi – solusi untuk memecahkan masalah dan tentunya solusi tersebut merupakan solusi yang konkret, membumi, aplikatif, dan bermutu, yang dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk, salah satunya dalam bentuk riset, baik riset dalam bidang eksakta maupun non eksakta. Namun, semua itu harus tetap berpegang teguh pada penguasaan bidang keilmuan masing – masing, untuk kemudian dapat dilihat dari berbagai sudut pandang secara interdisipliner sehingga menghasilkan jalan keluar yang solutif.
Akan tetapi, peran yang dilakoni mahasiswa tidak selalu bersifat konseptual, tetapi juga harus bersifat praktikal, yang dapat direalisasikan dengan terjun langsung ke masyarakat. Namun, hal tersebut harus disadari oleh kerangka berpikir ilmiah. Mahasiswa dapat memulai aksinya dalam upaya penyelesaian masalah – masalah yang ada pada suatu daerah, yang dimulai dengan observasi berupa kegiatan pengamatan yang dilakukan untuk menemukan akar permasalahan yang terjadi di daerah tersebut untuk kemudian dapat ditarik sebuah hipotesa, yang kemudian akan diuji melalui eksperimen dan kemudian dapat ditarik kesimpulan yang dapat berupa solusi terhadap permasalahan tersebut. Seorang mahasiswa yang cerdas, adalah seorang mahasiswa yang dapat mengubah sebuah permasalahan menjadi potensi besar. Sebagai contoh, dalam sebuah daerah terdapat potensi sumber daya alam berupa singkong, apabila komoditi singkong ini hanya dijual dalam bentuk singkong tentu saja nilainya tidak terlalu tinggi, ditambah lagi jumlah produksi komoditi ini melimpah dan sering kali hasil  komoditi ini melebihi permintaan pasar. Implikasinya, kelebihan singkong ini akan terbuang percuma. Sebagai mahasiswa, kita dapat berkontribusi dengan jalan melakukan riset untuk membuat singkong ini bernilai “lebih” dan termanfaatkan secara maksimal. Mahasiswa dapat membuat produk olahan singkong  yang memiliki nilai jual tinggi misalnya gatot tiwul, selain itu hal ini juga mampu meningkatkan daya tahan produk itu sendiri. Implikasi positif lainnya yang didapat adalah terbukanya lapangan pekerjaan dalam produksi komoditi ini yang kemudian dapat mengurangi angka pengangguran serta meningkatkan kesejahteraan masyarakaat daerah tersebut.
Berpijak dari narasi diatas, dapat ditarik konklusi bahwasanya mahasiswa sebagai agent of change, mempunyai peran besar untuk berkontribusi dalam membangun negeri ini, dan dapat diwujudkan dalam berbagai cara dimulai dari riset yang dilakukan baik eksakta dan non eksakta maupun terjun langsung ke dalam masyarakat sebagai bentuk realisasi terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi. Namun, untuk melakukan itu semua tentunya harus disadari oleh kerangka berpikir ilmiah, agar rencana yang ingin direalisasikan tidak terkesan serampangan dan dapat dipertanggung jawabkan.

***
Daftar Pustaka
Achmad, Fahmy Yanuar. 2010. Pergerakan, Potensi, dan Peran Mahasiswa dalam Menyelesaikan Masalah Bangsa. Yogyakarta: Subdit PPKB Ditmawa Universitas Gadjah Mada.
http://www.galeriilmiah.wordpress.com, tanggal 11 November 2013.

Nisa, Zahrotun. 2010. Mahasiswa sebagai Agent of Change dan Social Control Pembangunan Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: Subdit PPKB Ditmawa Universitas Gadjah Mada.



Monday, October 28, 2013

KEPEMIMPINAN ADA DI TANGAN PEMUDA MASA KINI!

Pemuda dengan semangat membara, dahulu.. 
Pemuda mengangkat senjata, memperjuangkan kemerdekaan untuk Indonesia 
Pemuda dengan semangat membara, MASA KINI!
Pemuda sebagai pilar terdepan dalam perubahan bangsa Indonesia 




Pada peringatan sumpah pemuda tahun 2013 ini, seluruh BEM Biologi, BEM KM UGM, dan BEM dari seluruh fakultas di Universitas Gadjah Mada menggelar aksi mahasiswa. Aksi yang berisi orasi dari seluruh pemuda serta teatrikal ini menarik perhatian para pengguna jalan dan media di sekitaran Bundaran UGM
Aksi yang berlangsung damai ini, ditujukan untuk membangkitkan kembali semangat sumpah pemuda di masyarakat. 



Teatrikal yang ditunjukkan pada aksi mahasiswa ini, menggambarkan bahwasanya pemuda masa kini terpecah belah, ketidakpedulian pemuda masa kini sangat terasa.. dimana pemuda sekarang, bagaikan bangunan kokoh.. tetapi dengan pondasi yang rapuh. Mudah terbawa arus zaman, tak punya pendirian, lebih bangga dengan negara lain, individualis, dan sebagainya. 

Pada momen peringatan sumpah pemuda ini, mahasiswa memberikan pesan. Bahwasanya, pemuda pemudi, siapapun anda, anda mempunyai peran besar dalam memajukan bangsa ini.
Ingatlah, sekecil apapun perubahan yang anda buat sangat berarti bagi negeri ini...


 


Dalam aksi ini, mahasiswa juga berharap agar pemuda sadar akan peran besarnya dalam memajukan bangsa ini. Karena suatu saat nanti, kita lah yang akan menjadi Pemimpin di Ibu pertiwi. 
Leburkan lah sekat di antara kita, satukan semangat juang! Bersatu padu dalam memajukan Indonesia!



Saturday, October 26, 2013

Self oriented : Antara Organisasi dan Akademik





Berbicara akademik dalam masa kuliah, pikiran kita bisa jadi mengarah ke IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) IPK tinggi pasti diidamkan hampir semua mahasiswa.  Ya..  dimata sebagian orang IPK ini seakan akan menjadi pilar masa depan mereka. Ya, memang IPK itu penting. IPK menunjukkan hasil pembelajaran kita selama di perkuliahan. Tetapi IPK tinggi tak menjamin masa depan yang cerah... ya, IPK hanya mengantarkan kita sampai pada bagian wawancara. Dimana selanjutnya, seleksi alam lah yang menentukan apakah kita pantas menduduki jabatan yang kita impikan. Jabatan yang tidak hanya menuntut kita untuk mempunyai IPK tinggi.. tetapi juga kemampuan kemampuan dasar dalam mengelola hidup kita, mengelola hal lain, dan bekerja sama dengan orang banyak. Yang bisa dikatakan sebagai soft skills.

Banyak mahasiswa ‘Galau’ ya.. kenapa masih galau? Ketika terjadi polarisasi antara akademik dan organisasi, banyak mahasiswa yang ‘ketakutan’ akan dampak berorganisasi bagi nilai akademis mereka.

Hal ini wajar, mengingat kiprah di bidang organisasi, tentunya menuntut totalitas, dan juga waktu mahasiswa untuk ikut berkontribusi dalam organisasi tersebut. Ketika fokus akademis itu terburamkan oleh aktifitas lain yang berkaitan dengan organisasi, bisa jadi nilai akademis akan menurun. Tetapi tidak semua aktifitas organisasi ini mengakibatkan IPK turun, banyak mahasiswa senior yang membuktikan diri bahwasanya mereka tetap bisa berkontribusi dalam organisasi tanpa mengabaikan nilai akademis mereka.

“Ini bukan soal memilih fokus antara organisasi atau akademis.. tetapi bagaimana cara kita mengatur, memanajemen semua aktifitas kita di perkuliahan”

Tentunya akademis dan organisasi, keduanya mempunyai peran dan manfaat penting bagi mahasiswa. Haruskah kita fokus pada salah satunya? Atau memilih keduanya, dan mengorbankan salah satu diantara mereka? Tanyakan ini pada diri anda sendiri.

Sesungguhnya, saat kita mengikuti akademis dengan baik, kita akan mendapatkan ilmu pengetahuan, wawasan baru yang lebih luas, yang bisa dikatakan sebagai hard skills. Dan disaat mengikuti organisasi banyak sekali pengalaman pengalaman serta kemampuan yang kita dapatkan dan hal ini disebut sebagai soft skills. Hal ini terkait dengan manajemen diri kita dalam mengelola sesuatu, entah mengelola diri sendiri, mengelola waktu, uang, dan mengelola kerja sama dengan orang lain

Jika kita hanya mempunyai bekal hard skills, apakah kita dapat survive, bertahan hidup dalam arus zaman yang selalu berubah secara dinamis di era globalisasi ini? Tentu saja tidak. We need balance guys! Yap.. keseimbangan antara hard skills dan soft skills.

Saat kita mempunyai penelitian, dan menghasilkan inovasi baru tentunya publik harus tahu.. bagaimana caranya? Presentasi/publikasi adalah salah satu caranya, tetapi disaat peneliti tersebut tidak dapat menyampaikan keilmuannya dengan baik. Tentunya akan sulit dipahami.. disinilah peran soft skills.

Back to the topic, polarisasi antara organisasi dan akademik. Selain hal tersebut, banyak sekali faktor yang membuat mahasiswa tidak ingin berorganisasi. Ya, paradigma mahasiswa saat ini adalah “bagaimana saya bisa cepat lulus dan cepat bekerja” menganut prinsip ekonomi klasik dimana mengorbankan sesuatu sekecil – kecilnya tetapi mendapatkan hasil yang sebesar – besarnya. Paradigma ini membuat mahasiswa seakan lupa akan jati dirinya, sebagai seorang “Agent Of Change” sebagai seorang social control. Pola pikir mereka terkesan individualis, dimana yang dipikirkannya adalah tentang dirinya, tentang masa depannya.. bukan tentang RAKYAT.

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwasanya mengabdi kepada rakyat adalah tanggung jawab mahasiswa, hal ini bahkan tertuang dalam tridharma perguruan tinggi.

Mari kita renungkan bersama.. apa yang sudah kita lakukan untuk negeri ini?

 Apa yang sudah kita lakukan untuk rakyat ini?

Apakah diri ini masih individualis?

Apakah masih memikirkan diri sendiri dan angan – angan tentang masa depan?

Sesungguhnya, negeri ini butuh kita!

Negeri ini butuh pemuda pemudi penggebrak rakyat Indonesia...

Sebagai mahasiswa, kita dapat berperan aktif dengan memberikkan solusi – solusi atas permasalahan dan realita yang terjadi di ibu pertiwi ini, solusi konkret, solusi aplikatif, tidak hanya sekedar teoritis.. tetapi praktikal juga. Bahkan, kita dapat terjun langsung kepada masyarakat, untuk melihat realita kehidupan yang sesungguhnya dan ikut berpartisipasi dalam membangun negeri dan memajukkan bangsa tercinta kita, BANGSA INDONESIA.






Ketika Aspirasi Terabaikan


Anarkis.. tidak teratur.. kaum terdidik kah itu? Ketika aksi yang kami lakukan menuai cercaan, menuai opini publik yang bersifat negatif “ngapain sih pake ngelakuin aksi kaya gitu? Kalian itu kaum terdidik, tugas kalian belajar!” belajar? Ya itulah tugas pokok kami.. menulis aspirasi, menuliskan kajian.. menulis keluh kesah kita akan sesuatu yang mengganjal di hati tentang republik ini, tentang rakyat Indonesia..
Ketika segala sesuatu dipolitisasi, ketika segala sesuatu disisipi kepentingan pribadi.. kebijakan itu tak berpihak pada kami.. ya kami “RAKYAT INDONESIA” sebagai mahasiswa, haruskah kami diam? menjadi pengamat, berusaha menemukan solusi konkret, solusi yang bukan hanya teoritis, tetapi juga aplikatif, yang akhirnya kami torehkan dalam sebuah tulisan.. yang kami tujukan pada elit politik negeri ini yang duduk dalam kursi birokrasi.. dan hanya terabaikan begitu saja...


Ketika kami menyuarakan aspirasi kami.. dan hanya dianggap angin lalu.. haruskah kami terdiam begitu saja? Membiarkan para elit politik itu mengatur semua, menginjak kepentingan rakyat Indonesia.. Tentu saja TIDAK!

Ketika aksi menjadi ujung tombak negosiasi.. kami hadir.. bersatu padu menyuarakan aspirasi kami.. berharap bahwasanya para elit politik negeri ini bisa mendengar keluh kesah kami.. bisa menciptakan keadilan, dan kebijakan yang pro rakyat..

Kami melakukan aksi, kami sadar bahwa kami adalah mahasiswa sebagai “AGEN PERUBAHAN BANGSA” sebagai social control, kami hadir menyuarakan aspirasi, berharap justisia ditegakkan dinegeri ini, dengan mimpi kesejahteraan bisa tercipta di negeri ini.  Kami sadar, kami tidak mempunyai kuasa.. kami tidak mempunyai wewenang untuk membuat kebijakan.. ya kalian lah para elit politik yang berhak mengatur ibu pertiwi ini.

Tentunya kami mempunyai harapan besar, kalian bisa untuk membangun negeri ini ke arah yang lebih baik, memajukan bangsa ini, mengangkat bangsa ini dari keterpurukan.. tetapi ketika kalian membuat kebijakan yang membuat RAKYAT semakin terpuruk. Kami hadir, menyuarakan aspirasi rakyat, mencoba dengan sepenuh hati kami, berjuang untuk rakyat dengan harapan semua kebijkan itu berpihak pada kami, RAKYAT INDONESIA

Banyak yang berpikir negatif tentang apa yang kami lakukan.. sebagai pemuda Indonesia, kami pun masih belajar.. kami adalah kaum intelektual, paradigma masyarakat pada kami semua adalah “mahasiswa itu tugasnya belajar! Perbaiki diri kalian dahulu, baru berpikir tentang rakyat!” ya banyak yang meremehkan kami.

Dahulu, gaung pemuda pemudi Indonesia sangat di elu elukan. Dimana aksi yang mereka lakukan dapat mengubah negeri ini, negeri yang dulunya dijajah menjadi negeri yang merdeka. Tetapi sadarkah kita, bahwasanya kita masih dijajah! Negeri ini masih dikuasai asing, bisa kita ambil contoh beberapa perusahaan asing di bidang energi seperti freeport, chevron, dan sebagainya.

Jika kita telisik, sesungguhnya bangsa ini mempunyai potensi besar untuk membangun negeri ini, mengelola segalanya sendiri. Hanya saja, kita masih belum sadar akan hal ini.

Pada momentum sumpah pemuda ini, marilah kita PEMUDA PEMUDI INDONESIA satukan semangat! Semangat persatuan! Semangat membangun negeri ini! Mari kita gaungkan kembali sumpah pemuda di zaman globalisasi ini.. leburkan sekat diantara kita semua, anda pemuda sebagai mahasiswa, sebagai seorang pekerja, atau apapun yang anda lakukan sekarang, sesungguhnya anda mempunyai tanggung jawab besar dalam membuat perubahan di negeri kita tercinta INDONESIA.

HIDUP MAHASISWA INDONESIA!!!


HIDUP PEMUDA INDONESIA!!!

HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!

Friday, October 25, 2013

Aplikasi “Environmental Sustainable Development”

Yap.. guys this is one of my essay.. this essay has theme "environmental sustainable development" I  made this for my admission in Gama Cendikia UGM, yaap :D and before read this I want to explain a little bit about environmental sustainable development, I am sure you guys still not get the mean of this theme, firstly.. do you guys know what is the meaning of  sustainable? sustainable same like continuous, sustainable has principle "use natural resources to meet current needs without compromising future generations to meet their needs" why this related to environmental? let's find the answer in the text below! Happy reading ^^

Winda Nurafiani
13/349093/BI/9143

Aplikasi “Environmental Sustainable Development”
Lingkungan merupakan ruang lingkup disekitar mahkluk hidup yang mempunyai peran amat fundamental bagi mahkluk hidup dalam mendukung keberlangsungan hidupnya, hal ini disebut sebagai daya dukung lingkungan. Bagaimana lingkungan dapat mendukung keberlangsungan hidup organisme? Lingkungan menyediakan berbagai jenis sumber daya alam, yang tentunya berperan penting dalam keberlangsungan hidup organisme baik dalam hal ketersediaan bahan pangan maupun habitatnya. Manusia selalu memanfaatkan sumber daya alam lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang identik dengan istilah pembangunan. Pembangunan yang terus berjalan, selalu memanfaatkan lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Meskipun perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dapat mengatasi batas hambatan yang ditimbulkan alam, tetapi pada kenyataannya masalah kerusakan lingkungan sulit dihindari sehingga mengganggu dan mengancam keberadaan manusia dan habitat penghuninya.
Sumber daya alam ini mempunyai dua jenis, yaitu non renewable resources dan renewable resources. Seperti yang kita ketahui, non renenewable resources merupakan sumber daya yang tersedia dalam jumlah terbatas di alam, tidak dapat diperbarui dalam jangka hidup manusia, sehingga manfaatnya akan habis jika sumber daya tersebut habis. Hal ini disebabkan oleh karena kecepatan pembaruan lebih rendah dibandingkan kecepatan penggunaannya. Sebagai contoh batu bara dan minyak bumi, minyak bumi merupakan sumber daya yang berasal dari bahan bakar fosil, terbentuk selama lebih dari 11.000 tahun. Apabila manusia menggunakan sumber daya ini sampai habis tentunya dibutuhkan beribu tahun untuk mendapatkannya kembali, hal ini juga disebut sebagai “Non sustainable” dimana konsistensi tingkat penggunaan tidak dapat dipertahankan, sehingga dapat diperhitungkan kapan sumber daya tersebut akan habis.


Sebaliknya, Renewable resources merupakan sumber daya yang secara alami dapat diperbarui setelah digunakan dalam waktu yang singkat, dalam artian sumber daya ini memiliki kemampuan untuk mengganti (replenish) bagian yang hilang, contoh dari sumber daya ini adalah air, cahaya matahari, angin, panas bumi, dan sebagainya. Sumber daya ini termasuk dalam kategori sustainable (berkelanjutan), dimana tingkat penggunaan sumber daya setinggi apapun tidak akan memperngaruhi kemampuan sumber daya untuk memperbarui diri. Sehingga konsistensi penggunaan dapat dipertahankan hingga masa depan. Salah satu contoh pengaplikasian dari Sustainable Development ini untuk lingkungan ialah dalam hal menanam pohon. Dengan menghitung kenaikan jumlah pohon per tahun kita dapat menentukan berapa banyak jumlah pohon yang akan ditebang per tahunnya agar sumber daya ini menjadi sustainable. Sebagai contoh, data menunjukan bahwa kenaikan densitas pohon per tahunnya adalah 10% dari 200 pohon, yang berarti 20 pohon baru tumbuh. Maka untuk membuat sumber daya ini menjadi sustainable, kita harus memanen < 20 pohon, agar jumlah pohon tetap sama atau meningkat per tahunnya.
Hal ini dapat diterapkan dalam program penghijauan seperti “Gerakan Menanam 1000 pohon” atau pun Reboisasi, dimana saat satu pohon ditebang, kita tanam kembali 1000 pohon, untuk mempertahankan sumber daya alam yang terbatas ini. Sehingga sumber daya ini akan tetap berkelanjutan dan dapat dimanfaatkan oleh anak cucu kita.
Masalah pembangunan dan pengembangan lingkungan hidup merupakan masalah yang cukup kompleks. Karena hal ini sulit untuk ditanggulangi, dan harus ditangani baik oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat. Untuk itu perlu adanya kesadaran pelaksanaan program dan pemahaman tentang apa yang ingin dituju, selain itu peran aktif masyarakat juga dibutuhkan untuk turut berkontribusi dalam membangun lingkungan yang berkelanjutan dengan tujuan untuk mengolah sumber daya alam secara bijaksana. Hal ini dimaksudkan agar pembangunan yang dilaksanakan dapat menopang pembangunan yang berkelanjutan bagi peningkatan kualitas hidup dari generasi ke generasi. Pembangunan yang dilaksanakan harus dengan pendekatan ekologis, dimana pembangunan yang memperhatikan kelestarian dan menghindari kerusakan lingkungan yang sangat diperlukan dalam menjalankan roda pembangunan, dengan pembangunan berwawasan lingkungan hidup. Sehingga pada akhirnya anak cucu kita tetap dapat merasakan sumber daya yang ada saat ini, dan tidak akan menjadi korban atas keserakahan dan keegoisan manusia zaman sekarang.

***